Pertubuhan Dakwah & Tarbiah   

Darul Hasani Selangor

Kewajipan seorang Mukmin mencintai Nabi & Keluarganya

Tatkala seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw. tentang hari kiamat, beliau menjawab dengan sebuah pertanyaan, "Apa yang sudah engkau persiapkan untuknya?" Orang itu menjawab, "Tidak ada lain kecuali bahwa saya mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Rasulullah saw. menjawab, "Engkau beserta orang yang engkau cintai” (HR. Bukhari Muslim).


Anas (perawi hadits) berkata, "Tiada sesuatu yang lebih membahagiakan kami selain ucapan Rasulullah, Engkau beserta orang yang engkau cintai. Selanjutnya Anas berkata, "Saya mencintai Rasul, Abu Bakar, dan Umar r.a. Saya berharap bisa bersama mereka di syurga karena cinta saya kepada mereka, meskipun amalan saya tidak sama dengan amalan mereka."


Firman Allah SWT: Dan ketahuilah! Bahawasanya dalam kalangan kamu ada Rasulullah (maka janganlah kemahuan atau pendapat kamu mendahului pentadbirannya); kalaulah ia menurut kehendak kamu dalam kebanyakan perkara, tentulah kamu akan mengalami kesukaran; akan tetapi (Rasulullah tidak menurut melainkan perkara yang diwahyukan kepadanya, dan kamu wahai orang-orang yang beriman hendaklah bersyukur kerana) Allah menjadikan iman suatu perkara yang kamu cintai serta di perhiaskannya dalam hati kamu, dan menjadikan kekufuran dan perbuatan fasik serta perbuatan derhaka itu: perkara-perkara yang kamu benci; mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang tetap menurut jalan yang lurus; -: (Al-Hujuraat 49:7).


Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul pun melainkan supaya ia ditaati dengan izin Allah. Dan kalaulah mereka ketika menganiaya diri mereka sendiri datang kepadamu (wahai Muhammad) lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulullah juga memohon ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat, lagi Maha Mengasihani. : (An-Nisaa' 4:64).


Al Habib Munzir bin Fuad Al Musawa beliau berkata: "Cinta Allah SWT tersimpan pada Sayyidina Muhammad SAW, sehingga Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa hambaNya karena mengikuti kekasihNya Sayyidina Muhammad SAW. Oleh karena itu mengikuti Rasulullah SAW adalah sesuatu yang diperintah oleh Allah SWT, sehingga memenuhi panggilan beliau merupakan hal yang wajib dalam keadaan apapun, sebagaimana diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari ketika seorang sahabat sedang melakukan shalat, di saat itu Rasulullah SAW memanggilnya, namun dia melanjutkan shalatnya kemudian setelah selesai ia mendatangi Rasulullah SAW, lantas Rasulullah SAW bertanya kepadanya : “Kemanakah engkau, aku memanggilmu namun kau tidak juga datang?”, maka ia menjawab : “Wahai Rasulullah tadi aku sedang melakukan shalat”, kemudian Rasulullah saw menjawab : “Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman” : “ Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasulullah apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”. ( QS. Al Anfaal : 24 ). "


Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata: Nabi saw. bersabda: Seorang hamba (dalam hadis Abdul Warits, seorang laki-laki) tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang. (Shahih Muslim No.62)


Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: "Ada tiga perkara, barangsiapa yang tiga perkara itu ada di dalam diri seorang, maka orang itu dapat merasakan manisnya keimanan yaitu: jikalau Allah dan RasulNya lebih dicintai olehnya daripada yang selain keduanya, jikalau seorang itu mencintai orang lain dan tidak ada sebab kecintaannya itu melainkan karena Allah, dan jikalau seorang itu membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah dari kekafiran itu, sebagaimana bencinya kalau dilemparkan ke dalam api neraka." Perkataan Nabi SAW pada hadits ini: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” memiliki makna bahwa keimanan yang sempurna tidak akan terwujud sampai hawa nafsu dan harapan seseorang mengikuti apa yang dibawa oleh Al Musthofa (Nabi Muhammad) SAW. Hal ini juga bermakna bahwa seseorang wajib mendahulukan kehendak Rasulullah SAW dibandingkan dengan kehendaknya serta mendahulukan syariat Rasulullah SAWdari pada hawa nafsunya. Jika terdapat pertentangan antara harapannya dengan sunnah, maka dia akan mendahulukan sunnah Nabi.


Dari Abu Hurairah, bahawa Rasulullah SAW bersabda; “ Barangsiapa mentaatiku, ia telah mentaati Allah. Barangsiapa bermaksiat kepadaku ia telah bermaksiat kepada Allah . Barangsiapa mentaati pemimpin berarti ia telah mentaatiku. Dan barangsiapa yang tidak mentaati pemimpin berarti ia telah bermaksiat padaku.“ (HR. Muslim).


Firman Allah SWT: Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah; dan sesiapa yang berpaling ingkar, maka (janganlah engkau berdukacita wahai Muhammad), kerana Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pengawal (yang memelihara mereka dari melakukan kesalahan). (An-Nisaa' 4:80).